Wednesday, October 8, 2014

Special Parents for Special Children

Mungkin banyak yang heran, saya ngilang darfi dunia blog cukup lama ya, sebenarnya saya lagi stres dengan fakta bahwa anak saya yang pertama ternyata didiagnosa autis ringan. Jadi saya ga terlalu fokus ke blogging, heheheh, tapi saya mau mulai aktif lagi menulis, dan ini share saya tentang anak saya J:


Children with special needs aren't sent to special parents, they make their parents special.”

Setiap anak itu spesial! Namun, saat anda dianugerahi dengan karunia membesarkan (baca: mendidik) seorang anak berkebutuhan khusus, maka si anak spesial ini membuat kita menjadi orang tua yang “spesial” juga! AnugerahNya cukup buat anak-anak spesial ini dan buat para orang tua yang membesarkan (baca: mendidik) mereka dalam jalan yang “patut” bagi mereka. Tantangan yang berbeda namun anugerahNya pun berbeda!

“Kami menyarankan anak anda untuk dibawa ke psikolog anak untuk tahu apakah memang dia memiliki gangguan perkembangan...”, demikianlah masih terngiang-ngiang ucapan kepala sekolah kelompok bermain tempat kami menyekolahkan anak kami. Beliau menyarankan beberapa tempat terapi anak berkebutuhan khusus yang mungkin bisa kami coba untuk J.
Ini bukan pertama kalinya kami mendapat saran serupa. Guru sekolah minggu dan guru T*mbletots J pun pernah menyarankan kami untuk menanyakan ke dokter anak J perihal keterlambatan perkembangan J.
Kami sebagai orang tua J saat itu merasa tidak ada yang salah dengan anak kami (sepertinya). Kami masih berada dalam fase unaware tentang fakta ini. Usianya tiga tahun ketika itu dan ia memang punya riwayat telat berjalan dan juga belum lancar berbicara. Usia 15 bulan J baru mulai lancar berjalan dan seringkali dia berjinjit saat melangkah.
Mulailah di usianya yang belum lama genap tiga tahun itu, kami mulai mencari tahu lewat internet dan buku, dan tentunya bertanya ke dokter anak dan ke teman kami yang kebetulan seorang psikolog. Mengikuti saran teman kami, kami kunjungi rumahnya seolah bertamu, dan dia pun bermain bersama J untuk mengamatinya.
Hasil bertamu itulah teman kami sarankan agar J segera terapi Sensory Integration (SI) dan terapi Wicara. Teman kami pun merekomendasikan dua nama psikiater anak yang menangani anak kebutuhan khusus seperti J.

Mulailah hari-hari awal terapi J.... Ternyata mencari tempat terapi itu tidak semudah mendaftarkan anak sekolah. Meningkatnya jumlah kasus anak berkebutuhan khusus membuat tempat-tempat terapi umumnya sudah terisi penuh dan untuk mendapat jadwal saja harus waiting list! Tiga bulan kami waiting list menunggu untuk dapat slot jam terapi SI di tempat yang disarankan. Yang membuat makin sesaknya lagi, biayanya lebih mahal dari biaya sekolah reguler! Keluarga kami yang single income cukup kuagettt dengan lonjakan biaya terapi dan pendidikan anak kami. Cukup WOW banget tuh dan cukup sukses menjadi topik konflik rutin kami saat itu. Segala sesuatu harus di budget ulang dan dipikirkan kembali apakah benar-benar kami butuhkan atau tidak. Semuanya fokus untuk biaya J.

Lalu mulailah kami baca resources dan buku-buku untuk anak spesial. Hasil browsing, baca buku, konsultasi dengan psikiater anak dan dokter anak membuat kami lebih terbekali secara pengetahuan dengan “how to” untuk menangani anak kami. Tapi...ada satu masa dimana stres dan depresi sempat melanda, sampai suatu titik kami “sadar” bahwa anak kami ini bukan milik kami. Yang bikin kami tertekan itu ternyata rasa memiliki yang salah, seolah J itu hak milik kami sebagai orang tuanya! Tuhanlah yang empunya J, dan kami hanya diberi kesempatan untuk menjadi orang tuanya, so...kami stop berusaha dengan kekuatan sendiri dan meminta hikmatNya. Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit,maka hal itu akan diberikan kepadanya.Yakobus 1:5 Saat kami berusaha dengan kekuatan sendiri, seolah Tuhan tidak lagi kami libatkan dan akhirnya kami malahan frustrasi sendiri! Namun saat kami berserah pada kehendakNya dan meminta hikmatNya dalam setiap langkah kami, anugerahNya nyata dan satu langkah demi satu langkah Ia menuntun kami kepada orang-orang yang tepat, tempat yang tepat pada waktu yang tepat.
Ga habis pikir betapa begitu banyaknya kebetulan-kebetulan (baca: mujizat-mujizat) yang Ia berikan sepanjang jalan buat J! Bagaimana Ia mempertemukan kami dengan seorang home therapist yang juga guru sekolah minggu, bagaimana kami dipertemukan dengan keluarga A yang mau jadi sahabat J, dan tak terhitung banyaknya kebetulan-kebetulan (baca: mujizat-mujizat) lainnya untuk diketik dalam sebuah artikel! Kami tulis semuanya di buku jurnal perkembangan J dan tiap baca buku itu kami dikuatkan! Sungguh nyata penyertaan Tuhan di setiap musim hidup J!
Akhir kata, dengan tanpa maksud menggurui, bagi para orang tua spesial yang memiliki anugerah yang sama dengan kami, ada empat tips yang menurut saya bisa jadi langkah praktis dalam perjalanan panjang mendidik anak-anak spesial kita:

1.stop living in denial
Berhenti memungkiri fakta kalau anak kita berkebutuhan khusus. Fase denial kalo bisa jangan lama-lama gitu loh....kaget boleh, marah boleh, kesal boleh, stres pun boleh, tapi segera bereskan hati dan bangkit dan bergegas! Kita berpacu dengan waktu, apalagi ini memasuki era percepatan! Satu tahun tuh rasanya cepat berlalu, dan bagi anak kebutuhan khusus, sedini mungkin diberi intervensi lebih baik dan memperbesar kemungkinan untuk mereka pulih! Ganbate!!

2.accept and love unconditionally
Terima anak kita apa adanya dan kasihi mereka tanpa syarat! Kasih sayang adalah obat paling manjur buat anak spesial! Mereka begitu fasih berbahasa kasih! Walau nonverbal sekalipun, mereka tetap mengerti bahasa kasih, terutama dari orang tuanya! Lebih sering memeluk, membelai dan mengatakan “I love you” lewat berbagai cara yang bisa kita lakukan.

3.build a support system
Beritahu keluarga besar dan inner circles kita tentang kondisi anak kita. Kalo perlu bikin acara khusus untuk konferensi pers dengan mereka, hahahaha sedikit lebay untuk menekankan pentingnya keterbukaan. Jangan menutupi dan menghindar dari teman-teman terdekat dan keluarga besar karena kita memiliki anak spesial! Justru kita akan butuh banyak bantuan mereka dan bisa melibatkan mreka dalam support system (tim yang ikut menangani anak spesial kita: orang tua, saudara kandung, dokter anak, terapis, psikiater anak, guru, guru sekolah minggu, teman dekat dan anggota keluarga besar). Support system ini bisa sangat menentukan kehidupan anak kita dan keluarga kita. Contoh: dengan adanya edukasi teknik penanganan anak spesial kepada support system, mereka pun bisa spend time dengan anak spesial kita di mall atau di pesta ultah dan tahu bagaimana bertindak saat misalnya anak spesial kita sedang emosi atau sedang tidak nyaman, dan muncul prilaku spesialnya.
Bisa bergantian babysit anak kita saat kita sedang berhalangan, misalkan: mama sedang melahirkan, sakit dan dirawat inap atau ada acara retret...contoh retret pearl kemaren saya bisa ikutan wkwkwkwk

4. give our children the opportunity of living their best life ever!

"Biarkanlah anak-anak itu datang kepadaKU, janganlah menghalangi mereka, sebab Kerajaan Allah empunya mereka."Matius 19:14

This is the best past! Jangan berhenti memperkenalkan Tuhan kepada mereka! Use every opportunity to introduce Jesus. Kebahagiaan dan kesuksesan terutama mereka adalah saat mereka mengenal kebenaran dan bertekun didalamNya!
Jangan berhenti terapi sampai anak kita memang perkembangannya sudah mengikuti yang diharapkan. Kalaupun harus terapi seumur hidupnya, usahakan yang terbaik demi anak kita! BerkatNya pasti cukup dan anugerahNya sempurna!

Terus cari dan gali minat dan bakat anak kita dan salurkan kelebihan mereka lewat kursus dan les. Kalau ia punya bakat musik salurkan ke alat musik yang bisa jadi skill buat mereka: piano, drum, keyboard, gitar, marching band dsbnya. Kalau suka menari, bisa disalurkan ke sanggar tari, les balet, breakdance, dsbnya. Atau jangan-jangan jago masak? Atau lukiskah? Yuk terus pelajari anak kita dan lanjutkan petualangan mencari bakat terpendamnya!

Untuk orang tua spesial lainnya yang mau saling share soal anaknya, penulis (baca: yunie) menerima email di agendaiburumahtangga (at) gmail (dot) com.

Saat ini J berusia 7 tahun dan ia masih menjalani terapi SI dan play therapy, untuk sekolahnya kami memilih pendekatan semi homeschooling. Perjalanan masih panjang dan let's enjoy the trip!

Thursday, August 14, 2014

my 2014 Reading List

hm...udah bulan Agustus...baru gue share nih Reading List gue:

  • No Wonder They Called Him The Saviour- Max Lucado
Buku ini disuruh baca ama bugem Febe hehehe dan berhasil membongkar pasang pola pikir tentang Tuhan. Worth to read buat yang Kristen. Thanks buat Bu lani yang kasih bukunya buat gue, secara buku ini dah langka di toko buku dah ga ada.--ralat seminggu lalu (29sep14) nemu buku ini tinggal 5 kopi kayaknya di karisma gajah mada plaza..yang minat langsung kesana aja, versi Bhasa Indonesia edisi lama :) So lucky to have the 1997 printed edition of the book!

  • Living in Love-Hidup dalam Kasih -buku yang pas buat PA pribadi ataupun dalam grup. Kisah-kisah cinta dalam Alkitab dibahas bab per bab. Yang gue suka tuh bagian latar belakangan sejarahnya. Seru dan menarik...beginilah kalo niat pengen kuliah teologi ga kesampean. :)
Living in Love was originally published in 1978 by Tyndale House Publishers, Inc. under the title Famous Couples in the Bible. The book has been scanned and is used by permission.
Free download versi Inggris nya disini, kalo yang mau versi bahasa Indonesianya disini walau terjemahannya agak kaku.

  • Growing Kids God's way- Gary n Mary Anne ezzo  __   Baca ulang lagi buku ini untuk ke empat kalinya, walau udah bolak balik masih aja banyak yang gue masih kudu belajar ulang.Buat yang mau grow their kids God's way, this book is good recommendation. 

  • Dare to Dream -John C maxwell

  •  The spark-Kristine Barnett

Monday, June 9, 2014

My gfcf pancake 1

Bahan (ingredients):

200gr tepung gasol beras merah

250cc homemade susu kacang almond, remahannya ga gue buang 

1telur bebek

2sdm olive oil

2sdm gula 

1sdt garam 

1/2sdt perasan jeruk lemon

2sdy baking powder

Cara membuat:

1 campur di satu wadah tepung, baking powder, garam, gula 

2 tambahkan susu, air jeruk lemon dan diamkan 30 menit

3 masukkan olive oil, dan telur, aduk merata, saya tambahin rum buat ilangin amis telur bebeknya

4 panaskan wajan, gunakan sendok sayur untuk menuang adonan ke wajan. Jika sudah muncul gelembung di adonannya, siap dibalik, lalu angkat dsn hidangkan.

5. Siram pancake dgn madu hdi sedaappp


 

© Free blogger template 3 columns