Wednesday, November 26, 2014

Serpihan Cinta -Hilda Pelawi


Judul: Serpihan Cinta-Menemukan Tuhan dalam Penderitaan
Pengarang: Hilda Pelawi
Penerbit: bpk gunung mulia
Seorang istri yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain...
Seorang anak yang jadi korban kekerasan dalam rumah tangga karena kehadirannya tidak diinginkan
oleh ibunya..
Seorang wanita yang hamil diluar nikah dan harus merelakan bayinya diadopsi orang lain demi
menghapus aib...
.
dan masih banyak lagi kisah lainnya.
Buku ini merupakan kumpulan cerita yg diadaptasi dari kehidupan beberapa anak Tuhan yang diijinkan
melewati penderitaan hidup. Buku yang cocok untuk dibaca lepas per bab dan direnungkan kisahnya.
Sungguh nyata bahwa Tuhan hadir di setiap musim hidup! Peringatan: Siapkan tisu ya saat membaca
dan selamat merenung sembari mengambil hikmah dari setiap cerita. Tisu untuk menyeka air mata haru
karena anugerahNya nyata dalam hidup para tokoh, bukan air mata mengasihani diri dan iba. Sebab
kita tahu bahwa pencobaan-pencobaan yang kita alami itu atas seijinNya dan melaluinya kita akan
semakin mengenalNya. Sungguh nyata dan indah penyertaanNya dalam setiap musim hidup kita! Nih
beberapa cuplikan kisahnya:
*Anne, seorang istri yang ditinggalkan suaminya demi wanita lain dan kini ia hidup hanya dengan
putri semata wayangnya. Ia menolak menikah lagi dan memilih hidup sebagai single parent. Semua ini
demi kebahagiaan putrinya. Letih berjuang menafkahi diri dan anaknya tak jadi soal buat Anne, sampai
tibalah surat itu, ya, dari Randy sang mantan suami yang kini terbaring sakit tak berdaya dan
membutuhkan bantuan biaya pengobatan. Apakah anne sanggup menemui Randy dan berdamai
kembali dengannya? Apakah pengampunan itu layak untuk Randy? Sulit dan sakit tentunya bagi Anne
untuk memberikan pengampunan buat Randy. Namun saat dihadapkan dengan teladan Yesus yang rela
mati di kayu salib dan berkata “Ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”,
lantas bagaimana respons Anne?
*Andika, yang acapkali menerima perlakuan kejam dari ibu kandungnya sendiri. Kesalahan kecil saja
yang dilakukannya bisa membuat sang ibu marah besar. Cacian, makian dan pukulan dari ibunya yang
garang tak dimengertinya. Sampai suatu hari, saat Andika sudah remaja, sang nenek menceritakan
kisah ibunya. Ibunya ditinggalkan ayahnya ketika mengandung dirinya. Ayahnya jatuh cinta dan pergi
bersama wanita lain. Andika menjadi sasaran pelampiasan emosi sang ibu yang menanggung rasa
marah,dendam, dan tak berdaya. Kemiripan wajah Andika dengan sang ayah seolah menghidupkan
kembali memori itu terus menerus di benak si ibu. Namun menghadapi kepahitan hidup seperti ibu
Andika, apakah kita harus berlarut-larut ada dalam keremukan hati? Itu adalah sebuah pilihan. Andika
dewasa pun bisa memilih apakah ia memberi pengampunan dan pengertian atas perlakuan ibunya
ataukah menyimpan kepahitan kepada sang ibu. Yesus, sang Penasehat Ajaib kita, lebih dari sanggup
untuk memulihkan luka hati Andika ketika ia memilih mengampuni ibunya.
*Pratiwi dibesarkan dalam keluarga yang menjunjung tinggi martabat diatas segalanya. “Jangan
berteriak saat marah. Jangan menangis saat sedih. ...Emosi kita tidak perlu diperlihatkan secara jelas
sebab orang yang bermartabat itu mampu mengendalikan rasa yang ada di dirinya.” Demikian
tergiang-ngiang nasihat Priyanti,sang ibu. Cara ia dibesarkan yang tidak memberinya ruang untuk
mengekspresikan emosi, membuatnya rapuh secara emosional. Lantas saat lelaki yang tidak disukai
kedua orangtuanya meninggalkannya dalam keadaan mengandung, seolah semua kebanggaan keluarga
yang menjunjung tinggi martabat sirna dalam sekejap. Ya, sirna oleh aib anak gadisnya. Isak tangis
Pratiwi saat memohon maaf kedua orangtuanya disambut kemarahan sang ayah dan perasaan gagal
sang ibu. Pratiwi dikirim ke sebuah rumah penampungan bagi wanita-wanita yang mengalami nasib
serupa, untuk membuang “aib” keluarga. Masa-masa penantian di rumah penampungan memberi waktu
bagi Pratiwi untuk merenung dan mencoba memahami keputusan kedua orangtuanya untuk
memberikan “aib” itu diadopsi oleh keluarga yang menginginkannya. Bingung, tertolak dan pilu
menyiksa batinnya, namun apakah respons Pratiwi? Mengasihani diri sendiri dan menyalahkan pria itu
dan kedua orangtuanya? Ia bebas memilih bagaimana ia menyikapi keadaannya. Namun sebagai anak
Tuhan, ia tahu bahwa Yesus selalu memberikan kesempatan kedua dan menerimanya tanpa syarat.
Tiga cuplikan kisah diatas bisa saja terjadi dan dialami setiap kita. Penderitaan hidup bisa kita alami
dalam versi yang berbeda dengan kisah diatas, namun yang membedakan setiap kita adalah bagaimana
kita meresponsnya. Apakah anda sedang mengalami kesesakan hidup? Berbagai hal terjadi di luar
kontrol kita, yang seringkali membuat kita bertanya "MENGAPA?"Hal yang wajar kita berteriak saat
merasa ga nyaman, manusiawi banget kok. Namun bunga yang tidak terinjak dan hancur, tidak akan
bisa tercium wanginya bukan? Justru di saat ujian tiba, itulah kesempatan untuk tahu seperti apakah
kekristenan kita, apakah makin lembek seperti kentang...atau makin wangi seperti kopi saat dipanaskan
?
Setiap cerita di buku ini, bab demi bab bagaikan serpihan cinta yang berserakan, menantikan CINTA
yang sejati menerobos masuk setiap kehidupan ini. Serpihan tak berarti yang menjadi demikian indah
saat CINTA TUHAN meneranginya. ....IA yang tak berdosa rela lahir ke dunia dan mati disalib
menanggung dosa kita. Pertanyaan yang sama diajukan: "MENGAPA?"
Mengapa Yesus demikian ngoyonya mau terlahir ke dunia ini, dan menebus dosa kita di kayu salib?
Jeritan kesesakan yg paling pilu itulah jeritan Yesus di kalvari, saat dosa kita semua ditanggungkan ke
atasNya yang tidak berdosa.
Saat Anne, Andika, Pratiwi, maupun setiap kita memahami karyaNya, dan mengalami Yesus secara
pribadi dalam hidup, maka CINTA TUHAN menerobos masuk hati kita!
Dan “ mengapa .. mengapa....”yang menjadi jeritan jiwa yang sesak tadi sirnalah sudah!
Bersyukur untuk setiap hal yang diijinkanNya terjadi! Miliki hati yang Loving Process, karena melalui
proses, kita didewasakan dalam iman kita!
Setiap ujian adalah kesempatan untuk berespons benar dan kita akan semakin teguh dan kuat
dibuatnya!
“....hanya kesadaran akan pendampingan Tuhan yang bisa membuat kita teguh menjawab pelbagai
gelombang dan tantangan yang hadir dalam hidup ini.”Hilda Pelawi


Monday, October 27, 2014

Homemade almond milk

Bagi yang mengenal gue secara personal, pasti tahu deh kalo gue ga telaten soal masak memasak, cenderung slebor dan asal...gitu lohhh... jadi suka ga standar hasil olahan menu nya karena suka gampangin...umpama gulanya gula pasir, adanya gula aren, yah monggo gue ganti aja...asalkan manis deh! Tapi ini sejak tahu J kudu dijaga diet makannya, gue mulai belajar agak "standar" kalo masak atau nyajikan menu apapun. Agak loh ya...kayaknya kalo gue bener-benar masak sesuai resep itu mujizat deh :)

berhubung anak gue alergi susu sapi, n gue coba soya eh BAB nya keras, nah gue nyoba aja resep susu almond ini:

Bahan:
20-25 butir almond mentah, boleh yg sudah dikupas kulit ataupun yg masih berkulit
air yg difilter untuk merendam si almond
wadah toples beling utk merendam almond semalaman atau kurleb 2-8 jam
Setelah direndam semalaman, buang air rendamannya, lalu bilas dengan air matang.
Masukkan ke blender, lalu tambahkan air 750 cc.
Blender hingga halus,lalu saring dengan kain muslin sehingga ampasnya tertahan di kainnya.
Airnya dicampur madu high desert 3 sdm untuk perasa manis alami, atau sesuai selera.
Siap dihidangkan, bisa untuk 3 gelas. Sisa ampas almondnya  bisa dimanfaatkan untuk luluran wajah dan badan hehehehe...ini tips dari mami Yohana, thks ya ! Gue pakai masker ampas almond ini  buat luluran wajah dan badan, murmer deh, alami dan sehat pula :)...tuh dibawah fotonya yg udah jadinya.... Puji Tuhan, anak-anak gue doyan susunya n bisa buat campuran jus buah juga.
 

Saturday, October 25, 2014

no not one


Terbangun sebelum subuh dan lagu himne ini terus terngiang-ngiang di dalam hati gue. Terharu baca liriknya. Bersyukur klo gue ga sendirian, i am never alone!

No Not One
Lyrics: Johnson Oatman Jr. 1856-1926.
 Music: George Crawford Hugg 1848-1907.

There’s not a Friend like the lowly Jesus:
No, not one! no, not one!
None else could heal all our souls’ diseases:
 No, not one! no, not one!

 Jesus knows all about our struggles;
 He will guide ’til the day is done:
There’s not a Friend like the lowly Jesus:
 No, not one! no, not one!

2No friend like Him is so high and holy,
 No, not one! no, not one!
And yet no friend is so meek and lowly,
 No, not one! no, not one!

3There’s not an hour that He is not near us,
No, not one! no, not one!
No night so dark,
but His love can cheer us,
  No, not one! no, not one!

4Did ever saint find this Friend forsake him?
  No, not one! no, not one!
Or sinner find that He would not take him?
 No, not one! no, not one!

5Was e’er a gift like the Savior given?
  No, not one! no, not one!
Will He refuse us the bliss of heaven?
  No, not one! no, not one!



 

© Free blogger template 3 columns