Sunday, May 17, 2015

Stimming

gambar diambil dari sini
Saya lagi cari tahu tentang apa sih stimming itu, soalnya sering banget diomongin DS masih suka stimming. Berikut hasil cari tahu soal stimming yang saya rangkum di blog post kali ini..

Stimming adalah kependekan dari self-stimulatory behavior, yang artinya prilaku menstimulasi diri sendiri. 
Contoh stimming adalah flapping (mengepak-ngepakan kedua tangan), spinning (berputar-putar), rocking (goyang-goyang) , mengulang-ulang kata atau frase tertentu, dsbnya.
Kalau selama ini yang saya nangkep stimming ini selalu dikaitkan dengan autisme, ternyata prilaku inipun dilakukan oleh pribadi non autis. Pernah donk tentunya gigit-gigit kuku, putar-putar pensil , mainin rambut sendiri dengan jari, goyang-goyangin kaki, dsbnya. Jika pernah melakukannya, ehm berarti juga udah melakukan stimming tuh...

Pada saat kapan stimming muncul?
Baik pada individu autis maupun non autis, stimming muncul sebagai upaya untuk menanggulangi perasaan/emosi negatif yang muncul seperti gelisah, takut, marah, kuatir, resah,bosan, dsbnya. Saya pun kalau bosan dengar kotbah atau ceramah bisa goyang-goyangin kaki sendiri atau pas jaman kuliah dulu saya mainin pulpen saya. Berarti stimming itu wajar donk ya? Semacam outlet emosi gitu ya?
Masalahnya kalau stimming yang dilakukan itu "aneh", berpotensi melukai diri dan mengganggu sekeliling seperti flapping, lompat-lompat sendiri atau menjambak-jambak rambut sendiri.
Untungnya sejauh ini stimming DS tidak yang aneh-aneh banget, hobinya main kertas dikibas-kibas sampai lepek dan dirobek-robek, biasanya kertas brosur. Dulu pernah dia suka gigit-gigit kerah bajunya sendiri, pernah juga dulu flapping dan mutar-mutar sendiri, trus apalagi ya..banyak juga loh. Tapi setiap jenis stimming lamanya hilang, muncul jenis stimming yang baru. Saya sampe deg-degan habis ini apalagi ya?

  Bagaimana trik nya ya mengubah atau mengurangi stimming yang DS lakukan?
 Nemu artikel ini http://www.friendshipcircle.org/blog/2012/03/22/the-cause-of-stimming-whats-your-stim/, yang isinya menjawab pertanyaan saya  dengan beberapa anjuran untuk mengurangi stimming:
1. Pastikan kebutuhan sensori dan emosionalnya terpenuhi, sehingga anak lebih nyaman dan potensi munculnya stimming berkurang
2.Perbanyak jam olahraga
3. Ikutan stimming juga sebagai upaya membangun relasi dengan anak. Jadi partner in crime anak dalam aksi stimmingnya. Saya pernah nonton film tentang ortu yang berhasil menerobos ke dunia anaknya yang autis lewat cara ini, filmnya bagus banget judulnya "A Miracle of Love", berdasarkan kisah nyata Barry dan Suzi Kaufman membesarkan anaknya Raun . Yang belum nonton film ini, coba deh cari DVD nya dan nonton, inspiratif banget!









PS: kalau ada special moms yang punya pengalaman yang sama dengan anaknya perihal stimming, share donk via comments or email. 





 

© Free blogger template 3 columns