Wednesday, August 5, 2009

For the Children's Sake


Judul: For the Children’s Sake-Foundations of Education for Home and School
Pengarang: Susan Schaeffer Macaulay*
Penerbit: Crossway Books

*)--Susan Schaeffer Macaulay adalah putri dari pasangan Francis dan Edith Schaeffer -pendiri L’Abri Fellowship. Ia bersama suaminya, Ranald Macaulay tinggal di Swiss dengan empat orang anak mereka.

Setiap pendidik (baca:orangtua dan guru) sebisa mungkin ingin memberikan pendidikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Namun, seperti apakah pendidikan yang terbaik itu?

Susan dan suaminya, Ranald memulai pencarian mereka akan pendidikan yang terbaik saat mencari sekolah untuk anak pertama mereka, Margaret. Awalnya ada sebuah sekolah di dekat rumah mereka dan Margaret kecil disekolahkan disitu—namun, Susan dan Ranald menyadari ada sesuatu yang salah dengan pendidikan di sekolah tersebut! Tindakan drastis pun diambil, Margaret ditarik keluar dari sekolah itu! Apa yang salah dengan sekolah tersebut? Mengapa Margaret tidak bisa menikmati kegiatan-kegiatan belajar mengajar di sekolahnya?

Pencarian Susan dan Ranald akan pendidikan bagi Margaret terus berlanjut. Sampai akhirnya mereka tiba pada sebuah perhentian, mereka menemukan sebuah sekolah kecil yang sederhana namun ada yang spesial dengan sekolah ini. Sekolah ini dijalankan dengan metode-metode Charlotte Mason. Prinsip-prinsip pendidikan Charlotte Mason -yang tak lekang oleh waktu- dipraktekkan di sekolah ini.

Itulah sebabnya, dalam seluruh isi dari buku ini, Susan mencurahkan perhatian pada karya-karya Charlotte Mason.

Lewat buku ini, pembaca akan diperkenalkan pada tokoh pendidikan yang sangat berpengaruh bagi Susan.
Siapakah gerangan Charlotte mason itu?
Beliau adalah seorang pendidik dari abad ke-19. Charlotte Mason (1842-1923) mempunyai pandangan-pandangan tentang pendidikan yang terlahir dari pengalaman-pengalamannya mengajar. Ia menekankan perhatian kepada para orangtua. Menurutnya, menjadi orangtua adalah profesi dan pekerjaan yang paling berharga bagi umat manusia. Keluarga dan rumahtangga adalah lingkungan pendidikan yang mendasar, bukan institusi sekolah.
Dalam esainya “Towards a Philosophy of education”, Charlotte Mason merangkum 18 prinsip pendidikan yang dibahas oleh Susan Schaeffer Macaulay secara mendalam dalam enam bab isi buku ini. Prinsip-prinsip ini dimodifikasi menjadi 20 Prinsip Pendidikan versi Charlotte Mason di kemudian hari.

Susan mengingatkan bahwa penerapan prinsip pendidikan dalam tiap-tiap keluarga berbeda-beda. Bahkan untuk tiap-tiap anak dalam keluarga yang sama, keputusan pilihan sistem pendidikan yang diterapkan orangtua bisa berbeda-beda! Mana yang terbaik bagi anak tersebut, itulah yang dipilih. Jadi, janganlah kita menghakimi keputusan pendidikan orang lain.

anak si ‘anu’ bersekolah di sekolah swasta,
anak si ‘anu’ ke sekolah negeri,
anak si ‘anu’ homeschooling di rumah,
semua pilihan-pilihan ini sah-sah saja! Tidak ada yang paling benar dan tidak ada yang salah dengan keragaman ini.
Orangtua yang telah mengambil prioritas yang benar untuk anak-anaknya akan membuat keputusan yang bijaksana tentang pendidikan anak-anaknya.

Bab dua buku ini membahas detil Prinsip #1, dimana kepribadian tiap-tiap anak sangat dihargai oleh Charlotte Mason:

Prinsip #1- Anak-anak terlahir sebagai pribadi

Susan menantang orangtua dan para guru untuk mengenali anak-anak tersebut, demi si anak tersebut(for the children’s sake)! Susan mengajak kita untuk jangan menganggap remeh anak-anak, ataupun menganggapnya sebuah tugas profesional semata. Anak-anak bisa menjadi sahabat terbaik kita! Kita bisa belajar dari mereka jauh lebih banyak dari apa yang bisa kita ajarkan kepada mereka!

Susan membahas detil aplikasi Prinsip #1 dengan menarik dalam keseluruhan isi bab dua, diantaranya dibahas bagaimana menuangkan Prinsip #1 dalam kegiatan bermain anak-anak, dalam memilih bacaan berupa buku-buku sastra dan living books.

Di dalam bab berikutnya, Bab tiga dari buku ini membahas Prinsip #2, #3 dan #4:

Prinsip #2- Mereka tidak terlahir seratus persen baik atau buruk, tetapi memiliki potensi untuk menjadi baik maupun buruk

Prinsip #3-Prinsip otoritas di satu sisi dan Ketaatan di sisi lain, adalah mendasar, diperlukan dan fundamental; namun-


Prinsip #4-Prinsip-prinsip ini dibatasi oleh rasa hormat terhadap kepribadian sang anak, yang janganlah melanggar haknya, entah dengan rasa takut atau rasa mengasihi,kekuatan sugesti, atau pengaruh mereka pribadi atas diri anak supaya anak mau belajar.


Tiga prinsip ini menekankan bahwa keseimbangan antara prinsip otoritas dan ketaatan. Sisi otoritas harus dibatasi oleh rasa hormat terhadap kepribadian sang anak. Sisi sang anak, harus memiliki ketaatan sebagai suatu kebiasaan yang tertanam, karena menghormati otoritasnya (orangtua, dan guru).

Prinsip berikutnya, Prinsip #5 dikenal sebagai motto pendidikan ala Charlotte Mason. Ada tiga motto pendidikan ala Charlotte Mason. Susan membahas tiga motto Charlotte Mason ini dalam bab empat.
Demikian isi dari Prinsip #5:
Prinsip #5- Kita dibatasi dengan tiga cara yang bisa dipakai untuk mendidik anak, yakni lingkungan alamiah anak (the atmosphere of the environment), melatih kebiasaan-kebiasaan baik (the discipline of habit), dan mengekspos ide-ide dan konsep-konsep yang hidup (the presentation of living ideas.

Tiga buah motto Charlotte Mason ini dijabarkan dalam Prinsip no #6, #7 dan #8:
Prinsip #6-"Education is an atmosphere" bukan berarti kita sepatutnya menciptakan lingkungan buatan untuk anak, tetapi kita memanfaatkan berbagai kesempatan dalam lingkungan tempat dia selama ini tinggal untuk mendidiknya. Anak-anak belajar dari hal-hal nyata dalam dunia nyata.

Prinsip#7-"Education is a discipline" artinya kita melatih anak untuk memiliki kebiasaan-kebiasaan pikiran dan tubuh yang baik. Ahli fisiologis menyatakan adanya adaptasi struktur otak terhadap pikiran-pikiran kita yang terarah.


Prinsip #8-"Education is a life" artinya pendidikan sepatutnya menyangkut baik tubuh, jiwa, maupun roh. Pikiran anak-anak dikenyangkan oleh segala jenis ide, sehingga kurikulum anak haruslah bervariasi dan kaya, meliputi banyak mata pelajaran.


Adalah baik untuk membiasakan anak-anak sejak dini untuk mempunyai perhatian yang terfokus sehingga materi-materi pelajaran diberikan dengan singkat dan tidak diulang. Juga menurut Charlotte Mason, tidaklah dianjurkan memberikan pekerjaan rumah, karena hanyalah menghabiskan waktu anak-anak. Gaya pembelajaran yang dianjurkan adalah menyelesaikan sekolah di pagi hari menjelang siang, sehingga sisa hari bisa dinikmati anak untuk mengeksplorasi lingkungannya dan alam. Jalan-jalan di taman, menikmati piknik di alam terbuka, sangat dianjurkan agar anak-anak mempelajari alam yang sesungguhnya, bukan hanya dari buku-buku saja ataukah layar kaca.


Seluruh pembahasan tiap-tiap prinsip ini akan lebih lengkap dan seru membaca langsung...:
For the Children's Sake: Foundations of Education for Home and School
For the Children's Sake: Foundations of Education for Home and School
Gambar Sampul versi terbarunya... :)

4 comments:

eha said...

selamat atas review pertamanya ya, wah blogwalking-nya efektif nih, langsung dapat menyerap ilmu ;)

tikno said...

Kata orang pendidikan bermutu punya korelasi dengan harga. Sehingga ini menjadi pembenar bahwa pendidikan murah memiliki label "tak bermutu". Entahlah apakah itu selalu benar atau tidak.

Inda said...

lagi blogwakling...wah keren deh bunda...
GBU

Agenda ibu rumah tangga said...

@ eha & Inda: thks

@ tikno:
pendapat saya: tidak selalu begitu, namun kecenderungannya sepertinya begitu..bagaimanapun itu tergantung dari hati si pengajar/pendidik, apakah didedikasikan penuh untuk si anak didik ataukah hanya karena tuntutan profesi saja?
tapi bicara sekolah yang 'mahal', kurikulum sekolah- sekolah plus sekarang kok sepertinya terlalu padat dan membebani si anak didik ya?

Learning from Anemone and Clown Fish

This week's to-read-book for kiddos Minggu lalu, kami belajar tentang kehidupan di dalam air dan secara spesifik membahas simbiosis...